Selasa, 31 Oktober 2017

EKSPLORASI STATUS RESISTENSI NYAMUK Aedes aegypti TERHADAP INSEKTISIDA JENIS MALATHION 0,8% DI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi D III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Risky Supratiwi (riskysupra@gmail.com)
EKSPLORASI STATUS RESISTENSI NYAMUK Aedes aegypti TERHADAP INSEKTISIDA JENIS MALATHION 0,8% DI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2017
XVIII + 113 halaman : gambar, tabel, lampiran

Penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) merupakan penyakit tropis yang disebabkan oleh virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Kasus demam berdarah di Kabupaten Kudus tahun 2012-2016 setiap tahunnya meningkat. Pengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti secara kimiawi salah  satunya dengan menggunakan insektisida. Metode yang digunakan adalah metode susceptibility test (WHO standar)dengan menggunakan impregnated paper yang mengandung 0,8% Malathion. Tujuan penelitian untuk mengetahui status resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida Malathion 0,8%. Jenis penelitian deskriptif yaitu hanya menggambarkan status resistensi nyamuk Aedes aegypti di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah.
Hasil uji resistensi menggunakan metode susceptibility test dengan menggunakan insektisida malathion 0.8%. Kematian nyamuk uji di Kecamatan Mejobo sebanyak 27 ekor dengan prosentase kematian nyamuk 36%, Kecamatan Kota Kudus sebanyak 31 ekor dengan prosentase kematian nyamuk 43,52%, Kecamatan Kaliwungu sebanyak 44 ekor dengan prosentase kematian nyamuk 62,63%, dan Kecamatan Jati sebanyak 43 ekor dengan prosentase kematian nyamuk 60,24%.
Kesimpulan penelitian yaitu status resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida Malathion 0.8% di Kabupaten Kudus dinyatakan resisten karena kematian nyamuk uji <80 disarankan="" insektisida="" p="" penggunaan="">Malathion di Kabupaten Kudus sebaiknya diganti dengan jenis insektisida yang lain karena nyamuk Aedes aegypti terbukti sudah resisten atau melakukan rotasi penggunaan jenis insektida lain, dosis insektisida dinaikkan namun perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu, dan perlu dilakukan evaluasi penggunaan
<80 disarankan="" insektisida="" p="" penggunaan="">insektisida setiap 3 s/d 5 tahun. 

<80 disarankan="" insektisida="" p="" penggunaan="">Daftar Bacaan : 50 (1991-2017)
Kata Kunci   : Insektisida, Resistensi, Nyamuk Aedes aegypti,  Kesehatan Lingkungan
<80 disarankan="" insektisida="" p="" penggunaan="">Klasifikasi    :   -
<80 disarankan="" insektisida="" p="" penggunaan="">Fulltext

DESKRIPSI PENGGUNAAN ZAT PEWARNA SINTETIS RHODAMIN B PADA MAKANAN JAJANAN JELLY YANG DIJUAL DI SEKOLAH DASAR NEGERI DI KECAMATAN TAMAN KABUPATEN PEMALANG TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Stella Evangelista Liwe (stella.liwe12@gmail.com)
DESKRIPSI PENGGUNAAN ZAT PEWARNA SINTETIS RHODAMIN B PADA MAKANAN JAJANAN JELLY YANG DIJUAL DI SEKOLAH DASAR NEGERI DI KECAMATAN TAMAN KABUPATEN PEMALANG TAHUN 2017
XIII+68 halaman: gambar,tabel,lampiran

Makanan yang memenuhi standar kesehatan, yakni makanan yang bebas dari zat-zat berbahaya seperti pewarna sintetis, pengawetan, serta pemanis buatan yang dilarang. Jelly merupakan salah satu jajanan yang digemari anak-anak karena bentuk dan warna yang menarik. Hal ini sering dimanfaatkan pedagang untuk mengejar keuntungan dengan menggunakan zat pewarna sintetis agar warna makanan terlihat lebih menarik. Tujuan penelitian memeriksa ada tidaknya zat pewarna sintetis rhodamin B, mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi para penjual bebas menjual jelly yang mengandung rhodamin B dan memeriksa kualitas jelly secara organoleptik. Metode penelitian deskriptif yaitu dengan melakukan observasi, wawancara, pemeriksaan rhodamin B pada jelly dan pemeriksaan kualitas jelly secara organoleptik. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 15 sampel jelly.   
Hasil penelitian didapat, 3 dari 15 sampel yang diperiksa positif rhodamin B. Pengetahuan Mrs C,D,E dalam kategori sangat baik (80%). Mrs J,K,M,N,O dalam kategori baik (57,1% dan 71,4%) dan Mrs A,B,F,G,H,I,L dalam kategori cukup (42,8%). Perilaku Mrs A,C,D,E,M,N,O dalam kategori sangat baik (83,3%). Mrs F,G,I,K,L dalam kategori baik (66,6%), Mrs H,B dalam kategori cukup (50%) dan Mrs J dalam kategori kurang (33,3%). Ketersediaan zat pewarna sintetis Mrs A,B,C,D,H,J dalam kategori mudah dan Mrs E,F,G,I,K,L,M,N,Odalam kategori tidak mudah. Mrs A yang mendapatkan penyuluhan sangat baik sisanya dalam kategori baik. Mrs A yang mendapatkan pengawasan sangat baik sisanya dalam kategori baik.Dari 15 sampel ada 4 jelly yang berwarna merah mencolok. Kesimpulan penelitian adalah terdapat 3 sampel jelly positif rhodamin B dari 15 sampel yang diperiksa di Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang. Disarankan agar masyarakat lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak, untuk pedagang yang belum memiliki surat perijinan dagang sebaiknya mengurus surat perijinan dagang, untuk petugas kesehatan disarankan agar meningkatkan penyuluhan dan pengawasan dan untuk pihak sekolah sebaiknya memberikan pengertian kepada siswanya agar lebih berhati-hati dalam membeli makanan serta memberi peraturan untuk berdagang di lingkungan sekolah harus memiliki ijin dari Dinas Kesehatan.

Daftar bacaan : 33 (1984-2016)
Kata kunci      : Rhodamin B, Makanan Jelly, Sekolah Dasar, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

Senin, 30 Oktober 2017

STUDI HYGIENE SANITASI PENGELOLAAN MAKANAN DAN MINUMAN DI RSUD BANYUMAS KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Astri Priyani (priyani.astri@gmail.com)
STUDI HYGIENE SANITASI PENGELOLAAN MAKANAN DAN MINUMAN DI RSUD BANYUMAS KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017
xv + 118 halaman : tabel, gambar, lampiran.

Pengelolaan makanan di rumah sakit, sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit yang endukung upaya penyembuhan dan pemulihan penyakit melalui penyelenggaraan makanan yang higienis dan sehat. Kualitas makanan harus terjamin terutama bagi pasien karena rentan terhadap berbagai penyakit termasuk penyakit-penyakit yang ditularkan melalui makanan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui skor sanitasi penerapan enam prinsip hygiene sanitasi pengelolaan makanan dan minuman di  instalasi  gizi RSUD Banyumas tahun 2017. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Pengumpulan data dengan data primer yang meliputi observasi, wawancara, dan pemeriksaan kualitas mikrobiologi makanan & minuman dan pemeriksaan kualitas mikrobiologi pada alat makan & alat masak yang dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat, serta data sekunder Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas. Hasil penelitian menunjukan penilaian sanitasi pada proses pengadaan bahan makanan, penyimpanan makanan dan penyajian makanan memenuhi syarat karena diperoleh skor 100%. Penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan dan pengangkutan makanan dan tidak memenuhi syarat karena diperoleh skor Hygiene Sanitasi Pengelolaan Makanan dan Minuman Di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas tidak memenuhi syarat, permasalahan hygiene sanitasi dapat diatasi dengan menambah ventilasi disertai kasa pada ruang pengolahan, menyediakan tempat sampah berpenutup, serta memeriksa kesehatan penjamah secara berkala minimal 6 bulan sekali.

Daftar bacaan      :     23 (1996 – 2017)
Kata Kunci            :     Hygiene  sanitasi,    Makanan  dan  Minuman,  Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi             :     -
Fulltext

HUBUNGAN KONSTRUKSI SUMUR GALI DENGAN KULITAS AIR SUMUR GALI DI DESA TAMBAHARJO KECAMATAN ADIMULYO KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi DIII Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2017
ABSTRAK
Yunita Setya Wardani (yunitasetya96@gmail.com)
HUBUNGAN KONSTRUKSI SUMUR GALI DENGAN KULITAS AIR SUMUR GALI DI DESA TAMBAHARJO KECAMATAN ADIMULYO KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2017
XIV +92 lembar +gambar , tabel, lampiran

Sumur merupakan salah satu sarana untuk penyediaan air bersih bagi masyarakat yang memanfaatkan air tanah hasil resapan/ infiltrasi air hujan sehingga rawan terjadinya pencemaran Masyarakat Desa Tambaharjo menggunakan sumur gali sebagai sumber penyediaan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan air bersih sehari – hari. Tujuan penelitian apakah ada hubungan antara konsturksi sumur gali dan kualitas air sumur gali di Desa Tambaharjo Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen tahun 2017. Jenis penelitian analitik dengan metode cross sectional. Pegumpulan data dilakukan dengan observasi konstruksi sumur gali, wawancara, dan pemeriksaan parameter fisik, kimia dan mikrobiologi di Laboratorium Kesehatan Kebumen, dan Laboratorium Kesehatan Purbalingga.
Hasil penelitian  dari 22 sumur gali terdapat 59% yang konstruksi sumur galinya memenuhi syarat dan 41% konstruksi sumur galinya tidak memenuhi syarat,kualitas fisik air sumur 68% memenuhi syarat, 32% tidak memenuhi syarat, untuk kualitas mikrobiologi hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan dari 22 sampel 81% sampel tidak memenuhi syarat dan 19% memenuhi syarat, kualitas kimia detergen dari 22 sampel 100% memenuhi syarat. Konstruksi sumur yang memenuhi syarat 59% dan yang tidak memenuhi syarat 41%. Analisis statistikdilakukan dengan uji chi square diperoleh nilai p value kualitas fisik dan mikrobiologi = 0,421 , 0, 125 dan kualitas kimia diperoleh hasil 100% memenuhi syarat. Kesimpulan  tidak ada hubungan antara konstruksi sumur gali dengan kualitas fisik, kimia dan mkirobiologi air sumur gali di desa Tambaharjo Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen. Saran  perbaikan konstruksi sumur gali yang tidak memenuhi syarat, serta perlu menjaga dan merawat konstruksi sumur gali yang dalam keadaan baik, melakukan penyuluhan mengenai konstruksi sumur gali dan sanitasi lingkungan pada sarana air bersih.

Daftar bacaan : 32 (1990 – 2017)
Kata Kunci     : kualitas air, konstruksi sumur gali, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      :  -
Fulltext

PENGARUH PEMAKAIAN GLASSWOOL SEBAGAI ALAT PEREDAM TERHADAP PENGURANGAN INTENSITAS SUARA MESIN GILING BUAH (BLENDER) DI LABORATORIUM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Jl. Dr. Soeparno Karang Wangkal Telp (0281) 641202 Kode Pos 53122, KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi DIII Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah,Juli 2017
Abstrak
Yessy Ratna Kusuma Wardani (yessyratnakw@yahoo.com)
PENGARUH PEMAKAIAN GLASSWOOL SEBAGAI ALAT PEREDAM TERHADAP PENGURANGAN INTENSITAS SUARA MESIN GILING BUAH (BLENDER) DI LABORATORIUM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Jl. Dr. Soeparno Karang Wangkal Telp (0281) 641202 Kode Pos 53122, KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017
XIV + 51 halaman : gambar, tabel, lampiran

Manusia hidup perlu makanan yang bergizi untuk melangsungkan kehidupannya. Sifat makanan diantaranya adalah dalam bentuk padat dan cair. Bahan makanan dalam bentuk padat dapat dihancurkan menggunakan alat penggiling. Alat yang dimaksud adalah mesin giling blender. Jenis penelitian yang digunakan adalah Pre Eksperimen dengan Rancangan Pre and Post Group Desain.
Hasil penelitian  alat peredam glasswool dapat mereduksi intensitas suara mesin blender sebesar 2 dB (pemasangan dibagian body blender), 3 dB (pemasangan bagian body+bawah blender) dan 4 dB (pemasangan bagian body+bawah+tutup blender). Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa Pada saat blender dioperasikan seharusnya menggunakan alat peredam
untuk mengurangi intensitas suara yang dihasilkan dari mesin blender tersebut agar telinga pengguna blender tidak berdenging dan komunikasi disekitar blender tidak terganggu. Sedangkan saran yang dapat dilakukan agar lebih efektif dalam mengaplikasikan glasswool adalah Untuk mereduksi
intensitas suara pada mesin blender agar lebih efektif sebaiknya memperhatikan kerapatan dalam memasang glasswool. Semakin rapat glasswool dipasang, maka semakin berkurang juga intensitas suara mesin blender dan dalam pemotongan glasswool harus disesuaikan dengan diameter body blender, diameter tutup blender dan diameter bagian bawah blender, karena setiap blender memiliki karakteristik yang berbeda.

Daftar Bacaan : 18, ( 1989 - 2012 )
Kata Kunci     : intensitas suara blender, peredam glasswool, kesehatan lingkungan.
Klasifikasi      :  -
Fulltext

Pengaruh Cara Pengolahan terhadap Kadar Formalin pada Tahu Tahun 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, 2017
Abstrak
Wihda Feftiani Amy Huriah (Wihdafeftianii@gmail.com)
Pengaruh Cara Pengolahan terhadap Kadar Formalin pada Tahu Tahun 2017XV + 76 Halaman; tabel, gambar, lampiran

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan, menyatakan bahwa masyarakat perlu dilindungi dari penggunaan bahan tambahan pangan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan. Pemakaian formaldehida pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, konsumsi Formalin pada dosis tinggi dapat mengakibatkan kematian. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang masih ada atau tidaknya Formalin pada beberapa tahu yang telah diolah dalam karya tulis ilmiah yang berjudul Pengaruh Cara Pengolahan terhadap Penurunan Kadar Formalin pada Tahu Tahun 2017.  Tujuan penelitian  mengetahui apakah masih terdapat Formalin pada tahu yang telah diolah dengan cara goreng, oseng, sayur, pepes, dan bacem atau tidak. Jenis penelitian pra eksperimen dengan rancangan quasi eksperimen yaitu sebuah eksperimen yang dilaksanakan dengan cara melakukan pengukuran kadar Formalin pada tahu sebelum dan sesudah dilakukan pengolahan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, dan pemeriksaan laboratorium. Data disajikan dalam bentuk narasi dan tabel kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan uji annova.
Hasil penelitian yang diperoleh, yaitu adanya perbedaan antara sampel sebelum diolah dengan sampel setelah dilakukan perlakuan, yaitu sampel B memiliki perbedaan 3,01 ppm dengan sampel sebelum diolah, 7,45 ppm dengan sampel C, dan 7,82 ppm dengan sampel D, sampel C memiliki perbedaan 4,44 ppm dengan sampel sebelum diolah, dan 7,45 ppm dengan sampel B, sampel D
memiliki perbedaan 4,81 ppm dengan sampel sebelum diolah dan 7,82 ppm dengan sampel B.
Kesimpulan kadar tahu sebelum dilakukan perlakuan didapatkan hasil konsentrasi rata-rata yaitu 14,28 ppm. Setelah dilakukan perhitungan rata-rata didapatkan penurunan presentase kadar pada tahu goreng 3,5%, tahu bacem 31,09%, tahu sayur 33,62%, dan tahu pepes 7,33%, sedangkan untuk tahu oseng mengalami kenaikan presentase kadar sebanyak 21,10%. Berdasarkan perlakuan yang dilakukan dengan 5 cara pengolahan berbeda didapatkan hasil kesimpulan bahwa cara pengolahan yang paling banyak mengalami penurunan kadar adalah dengan cara disayur menggunkaan air dan santan dengan bumbu dapur berupa bawang putih, garam,
jahe, kunyit, ketumbar, kemiri, dan gula.

Daftar Bacaan : 32 (1987-2016)
Kata Kunci     : Formalin, Penurunan Kadar, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

STUDI KLINIK MITRA SEHAT BERWAWASAN KESEHATAN LINGKUNGAN DI DESA PANDAK KECAMATAN BATURRADEN TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Wahyu Prianingsih (wahyuprianingsih@yahoo.com)
STUDI KLINIK MITRA SEHAT BERWAWASAN KESEHATAN LINGKUNGAN DI DESA PANDAK KECAMATAN BATURRADEN TAHUN 2017
XVI + 104 halaman: gambar, tabel, lampiran

Klinik merupakan fasilitas yang memberikan pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan medis dasar atau spesialistik, jika kondisi klinik tidak sesuai dengan persyaratan kesehatan lingkungan akan menyebabkan pelayanan kesehatan tidak berjalan optimal dan memungkinkan terjadinya penularan penyakit. Tujuan penelitian adalah menjadikan pelayanan kesehatan berwawasan kesehatan lingkungan. Metode penelitian analisis deskriptif dengan subyek ruang dan bangunan serta sarana sanitasi klinik. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasional, pengukuran dan dokumen. Analisis data yang digunakan secara deskriptif dengan menggambarkan kondisi ruang bangunan, penyehatan air bersih, pengelolaan limbah cair dan padat di klinik dari hasil penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ruang bangunan klinik belum memenuhi syarat yaitu pertemuan lantai dan dinding tidak berbentuk konus, saluran pembuangan air limbah tidak dilengkapi dengan water seal, tinggi langit-langit pada bangunan belakang klinik hanya 2,5 m, ruang tindakan umum dan ruang observasi hanya disekat menggunakan tirai, kelembaban ruang khitan 38 % dan ruang poly umum 36 % sedangkan kebisingan di ruang poly umum masih tinggi yaitu 47,67 dBA dan di ruang tunggu 68,20 dBA, luas tempat parkir masih kurang dan tempat sampah belum semuanya memiliki tutup. Penyediaan air bersih di klinik memenuhi syarat dengan debit 0,069 liter/detik, total Coliform 0 per 100 ml sampel, pH 7,0 dan sisa Chlor 0,3 mg/l. Pengelolaan limbah cair di klinik belum memenuhi syarat. karena belum memiliki IPAL. Kesimpulan Klinik Mitra Sehat belum memenuhi syarat sebagai klinik berwawasan kesehatan lingkungan karena masih harus dilakukan perbaikan dalam bidang ruang bangunan dan pengelolaan limbah cair. Saran bagi pihak klinik yaitu memperbaiki kondisi ruang bangunan sesuai persyaratan dan membangun IPAL untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan klinik.

Daftar bacaan : 16 (1990 - 2016)
Kata kunci     :  Klinik, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi     :  -
Fulltext